5 Agustus 2017

OLEH: EMHA AINUN NADJIB

Kenapa dunia begitu ketakutan kepada Khilafah? Yang salah visi Khilafahnya ataukah yang menyampaikan Khilafah kepada dunia? Sejak 2-3 abad yang lalu para pemimpin dunia bersepakat untuk memastikan jangan pernah Kaum Muslimin dibiarkan bersatu, agar dunia tidak dikuasai oleh Khilafah.

Maka pekerjaan utama sejarah dunia adalah: dengan segala cara memecah belah Kaum Muslimin. Kemudian, melalui pendidikan, media dan uang, membuat Ummat Islam tidak percaya kepada Khilafah, AlQur`an dan Islam. Puncak sukses peradaban dunia adalah kalau Kaum Muslimin, dengan hati dan pikirannya, sudah memusuhi Khilafah. Hari ini di mata dunia, bahkan di pandangan banyak Kaum Muslimin sendiri: Khilafah lebih terkutuk dan mengerikan dibanding Komunisme dan Terorisme. Bahkan kepada setan dan iblis, manusia tidak setakut kepada Khilafah.

Perkenankan saya mundur dua langkah dan mencekung ke spektrum kecil. Juga maaf-maaf saya menulis lagi tentang Khilafah. Ini tahadduts binni’mah, berbagi kenikmatan. Banyak hal yang membuat saya panèn hikmah, pengetahuan, ilmu dan berkah. Misalnya saya tidak tega kepada teman-teman yang mengalami defisit masa depan karena kalap dan menghardik dan mengutuk-ngutuk tanpa kelengkapan pengetahuan. Sementara saya yang memetik laba ilmu dan berkahnya.

Ummat manusia sudah berabad-abad melakukan penelitian atas alam dan kehidupan. Maka mereka takjub dan mengucapkan “Robbana ma kholaqta hadza bathila”. Wahai Maha Pengasuh, seungguh tidak sia-sia Engkau menciptakan semua ini. Bahkan teletong Sapi, menjadi pupuk. Sampah-sampah alam menjadi rabuk. Timbunan batu-batu menjadi mutiara. Penjajahan melahirkan kemerdekaan. Kejatuhan menghasilkan kebangkitan. Penderitaan memberi pelajaran tentang kebahagiaan.

Saya juga tidak tega kepada teman-teman yang anti-Khilafah. Tidak tega mensimulasikan nasibnya di depan Tuhan. Sebab mereka menentang konsep paling mendasar yang membuat-Nya menciptakan manusia. Komponen penyaringnya dol: anti HTI berarti anti Khilafah. Lantas menyembunyikan pengetahuan bahwa anti Khilafah adalah anti Tuhan. “Inni ja’ilun fil ardli khalifah”. Sesungguhnya aku mengangkat Khalifah di bumi. Ketika menginformasikan kepada para staf-Nya tentang makhluk yang Ia ciptakan sesudah Malaikat, jagat raya, Jin dan Banujan, yang kemudian Ia lantik – Tuhan tidak menyebutnya dengan “Adam” atau “Manusia”, “Insan”, “Nas” atau “makhluk hibrida baru”, melainkan langsung menyebutnya Khalifah. Bukan sekadar “Isim” tapi juga langsung “Af’al”.

Konsep Khilafah dengan pelaku Khalifah adalah bagian dari desain Tuhan atas kehidupan manusia di alam semesta. Adalah skrip-Nya, visi missi-Nya, Garis Besar Haluan Kehendak-Nya. Khilafah adalah UUD-nya Allah swt. Para Wali membumikannya dengan mendendangkan: di alam semesta atau al’alamin yang harus dirahmatkan oleh Khilafah manusia, adalah “tandure wis sumilir, tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar”. Tugas Khalifah adalah “pènèkno blimbing kuwi”. Etos kerja, amal saleh, daya juang upayakan tidak mencekung ke bawah: “lunyu-lunyu yo penekno”. Selicin apapun jalanan di zaman ini, terus panjatlah, terus memanjatlah, untuk memetik “blimbing” yang bergigir lima.

Khilafah adalah desain Tuhan agar manusia mencapai “keadilan sosial”, “gemah ripah loh jinawi”, “rahmatan lil’alamin” atau “baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghofur”. Apanya yang ditakutkan? Apalagi Ummat Islam sudah terpecah belah mempertengkarkan hukum kenduri dan ziarah kubur, celana congklang dan musik haram, atau Masjid jadi ajang kudeta untuk boleh tidaknya tahlilan dan shalawatan. Mungkin butuh satu milenium untuk mulai takut kepada “masuklah ke dalam Islam sepenuh-penuhnya dan bersama-sama”. Itu pun sebenarnya tidak menakutkan. Apalagi dunia sekarang justru diayomi oleh “udkhulu fis-silmi kaffah”: masuklah ke dalam Silmi sejauh kemampuanmu untuk mempersatukan dan membersamakan.

Hari-hari ini jangan terlalu tegang menghadapi Kaum Muslimin. Kenduri yang dipertentangkan adalah kenduri wèwèh ambengan antar tetangga, bukan kenduri pasokan dana nasional. Toh juga dengan pemahaman ilmu yang tanpa anatomi, banyak teman mengidentikkan dan mempersempit urusan Khilafah dengan Hizbut Tahrir. HTI sendiri kurang hati-hati mewacanakan Khilafah sehingga dunia dan Indonesia tahunya Khilafah adalah HTI, bukan Muhammadiyah atau lainnya. Padahal HT maupun HTI bukan penggagas Khilafah, bukan pemilik Khilafah dan bukan satu-satunya kelompok di antara ummat manusia yang secara spesifik ditugasi oleh Allah untuk menjadi Khalifah.

Setiap manusia dilantik menjadi Khalifah oleh Allah. Saya tidak bisa menyalahkan atau membantah Allah, karena kebetulan bukan saya yang menciptakan gunung, sungai, laut, udara, tata surya, galaksi-galaksi. Bahkan saya tidak bisa menyuruh jantung saya berdetak atau stop. Saya tidak mampu membangunkan diri saya sendiri dari tidur. Saya tidak sanggup memuaikan sel-sel tubuh saya, menjadwal buang air besar hari ini jam sekian, menit kesekian, detik kesekian. Bahkan cinta di dalam kalbu saya nongol dan menggelembung begitu saja, sampai seluruh alam semesta dipeluknya — tanpa saya pernah memprogramnya.

Jadi ketika Tuhan bilang “Jadilah Pengelola Bumi”, saya tidak punya pilihan lain. Saya hanya karyawan-Nya. Allah Big Boss saya. Meskipun dia kasih aturan dasar “fa man sya`a falyu`min, wa man sya`a falyakfur”, yang beriman berimanlah, yang ingkar ingkarlah – saya tidak mau kehilangan perhitungan. Kalau saya menolak regulasi Boss, saya mau kerja di mana, mau kos di mana, mau pakai kendaraan apa, mau bernapas dengan udara milik siapa. Apalagi kalau saya tidur dengan istri, Tuhan yang berkuasa membuatnya hamil. Bukan saya. Saya cuma numpang enak sebentar.

Hal-hal seperti itu belum cukup mendalam dan rasional menjadi kesadaran individual maupun kolektif Kaum Muslimin. Jadi, wahai dunia, apa yang kau takutkan dari Khilafah? Andaikan Khilafah terwujud, kalian akan diayomi oleh rahmatan lil’alamin. Andaikan ia belum terwujud, sampai hari ini fakta di muka bumi belum dan bukan Khilafah, melainkan masih Kaum Muslimin. Bahkan di pusatnya sana Islam tidak sama dengan Arab. Arab tidak sama dengan Saudi. Saudi tidak sama dengan Quraisy. Quraisy tidak sama dengan Badwy. Apa yang kau takutkan? Wahai dunia, jangan ganggu kemenanganmu dengan rasa takut kepada fatamorgana.

Oleh Doni Riw

Kamis, 20/7/17, sehari setelah legalitasnya dicabut, HTI menutup kantor & papan nama kantornya.

Peristiwa ini memberi pelajaran berharga pada kita, tentang perbedaan antara melawan hukum dengan mengkritisi sistem.

HTI terkenal lantang mengkritik kebijakan pemerintah yang melandaskan hukum-hukumnya pada liberalisme kapitalisme, seperti liberalisasi SDA & BUMN, dll.

Namun di saat yang sama, HTI juga patuh pada hukum Indonesia, sebagai konsekuensi bahwa HTI hidup di Indonesia.

Penutupan kantor pusat & papan nama HTI di Jakarta hanyalah salah satu contoh dari ratusan/ribuan tindakan patuh hukum HTI selama eksis di Indonesia.

HTI telah memberi contoh bagi bangsa ini, bahwa kita harus patuh pada aturan main sekaligus cerdas mengkritik segala hal yang tidak sesuai dengan kebenaran.

HTI juga tidak asal kritik saja, tetetapi juga menawarkan solusi berupa hukum yg lebih baik yaitu hukum dari Allah Sang Pencipta alam raya.

Tawaran solusi ini pun bersifat tawaran pemikiran yang tidak memaksa. Semua orang berhak menimbang & memikirkan apakah tawaran itu lebih baik atau lebih buruk dibanding sistem hukum yg tengah berjalan.

Sayangnya, sebagian orang tidak memahami hal ini. Tindakan kritik itu diinterpretasi sebagai tindakan melawan hukum. Sedangkang tawaran solutif yg bersifat bebas itu dituduh memaksakan kehendak.

Hingga akhirnya, pemerintahpun turut serta dalam kelatahan tersebut. Menerbitkan perppu & mencabut ijin HTI tanpa proses pengadilan.

Semoga semua ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Persatuan dan kesatuan Indonesia

Oleh: Ustadz Dr. H. Muhammad Ichsan Lc, MA ( Dosen UMY)

Ma’ashiral muslimin dan muslimat hafizakumullah. Pagi hari ini, kita umat Islam bergembira menyambut hari raya Idul Fitri. Pagi hari ini, kita bersyukur kepada Allah ta’ala karena berkat taufik dan hidayahnya kita dapat menyempurnakan ibadah puasa dan serangkaian ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadan yang baru saja meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Pagi ini kita memuji Allah, memuliakan Allah, mengagungkan Allah, antara lain dengan salat hari raya Idul Fitri dan meluangkan takbir: Allah Akbar, Allah Akbar.

Alangkah indahnya hari ini. Alangkah mulianya hari ini. Alangkah gembiranya kita pada hari ini, karena sebulan penuh kita telah dibina dan dididik dalam madrasah Ramadan. Diharapkan, pendidikan dan pengajaran yang kita peroleh pada bulan Ramadan tersebut dapat kita jadikan sebagai bekal untuk menjadi umat yang besar lagi bermartabat.

Para hadiri dan hadirat rahimakumullah.

Marilah kita bersyukur kepada Allah. Sadar atau tidak sadar, bangsa Indonesia yang kita cintai ini dikaruniai Allah dengan berbagai macam anugerah. Mulai dari pulau yang banyak jumlahnya, tanah yang subur, iklim yang tidak ekstrim, hingga suku bangsa, bahasa, budaya, dan agama yang berbeda-beda. Dengan kurnia Allah ta’ala semua itu dapat disatukan olehfounding fathers atau pendiri bangsa kita, sehingga menjadi satu bangsa yaitu bangsa Indonesia, menjadi satu negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nenek moyang kita, para pendiri dan pahlawan bangsa, telah berkorban dengan keringat mereka, darah mereka, harta mereka dan bahkan dengan jiwa raga mereka untuk mempersatukan bangsa ini dan memerdekakannya dari para penjajah yang telah merampas kemerdekaan kita berabad-abad lamanya.
Sesudah merdeka, kita bangsa Indonesia, menikmati hasil perjuangan, pengorbanan dan keringat serta darah para pahlawan tersebut. Kita menghirup udara bebas dan berusaha membangun kembali bangsa itu dari kebodohan, kemiskinan, dan keterpurukan dalam berbagai bidang. Presiden demi presiden silih berganti memimpin negeri ini. Pemerintah demi pemerintah bertukar, kita tetap hidup aman, damai, tenteram, dan sentosa sebagai sebuah bangsa yang besar. Namun sayangnya, banyak orang merasakan, selama ini kita belum pernah khawatir terhadap persatuan bangsa ini sebagaimana (terjadi) dalam rezim ini. Selama ini kita belum pernah cemas terhadap kesatuan negara ini seperti dalam pemerintahan ini. Hal ini karena nikmat persatuan dan kesatuan bangsa ini beberapa waktu yang lalu hampir terkoyak dengan kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur Jakarta sewaktu itu. Keadaan tersebut diperparah dengan adanya pesta demokrasi yaitu Pilkada Jakarta.

Masyarakat terpecah menjadi dua, pendukung Ahok atau Ahokers, dan masyarakat yang menghendaki supaya Ahok dihukum seberat-beratnya karena menistakan agama. Meskipun yang anti Ahok banyak sekali jumlahnya, baik dari Jakarta maupun luar Jakarta, namun karena Ahok jelas-jelas didukung oleh para taipan, partai pemerintah dan Polri, maka terjadilah perlawanan yang seru. Aksi Bela Islam 411 dan 212 adalah buktinya. Belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, umat Islam berkumpul di suatu tempat sebanyak 7 juta orang lebih dalam aksi super damai untuk menuntut ditegakkannya hukum terhadap penista agama.

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.

Meskipun Ahok telah divonis bersalah dalam kasus penistaan agama, dan telah kalah dalam Pilkada Jakarta, namun kegaduhan nasional masih terasa. Luka permusuhan dan perpecahan masyarakat masih menganga. Apalagi dua tahun lagi suasana akan semakin memanas lagi dengan adanya Pemilu. Hingga hari ini masih ada usaha-usaha membenturkan umat Islam dengan dengan Pancasila. Umat Islam yang berbeda pendapat dengan pemerintah dan penegak hukum dianggap anti-pancasila, anti-bhineka tunggal ika dan anti-NKRI. Masih ada pembunuhan karakter terhadap tokoh-tokoh Islam, meskipun selalu dinafikan dan dibantah. Masih terasa hukum selalu tajam terhadap ulama, tokoh, dan aktivis Islam, dan terhadap umat Islam pada umumnya, tapi tumpul terhadap Ahok dan para pendukungnya.

Sebagai contoh, ketika Aksi Bela Islam 212 masih berdemo setelah maghrib mereka langsung dibubarkan secara paksa dengan gas air mata, sementara para pendukung Ahok dibiarkan berdemo sampai larut malam di depan LP Cipinang. Ketika bendera kita ditulis kalimah laa ilaaha illallah, penulisnya langsung diciduk, sementara bendera mereka sering ditulisi tulisan-tulisan lain tapi dibiarkan. Ketika akan berdemo sebagian tokoh Islam ditangkap dengan tuduhan makar, sementara yang terang-terang akan makar di Papua atau memakai atribut PKI yang terlarang justru dibiarkan bebas.

Kaum muslimin dan muslimathafizakumullah.

Sekarang adalah era keterbukaan. Masyarakat hari ini sudah cerdas. Masyarakat hari ini susah untuk dibohongi. Jika pemerintah korup dan bertindak sewenang-wenang, pasti mereka mengetahuinya. Jika penegak hukum tidak adil dan tebang pilih, pasti mereka merasakannya. Meskipun pemerintah dan penegak hukum pandai menyulap fakta, memelintir kata dan membuat rekayasa, pasti rakyat akan menyadarinya. Meskipun media massa, baik cetak maupun elektronik, dikuasai oleh para taipan dan konglomerat, umat Islam masih mempunyai senjata lain yaitu medsos atau media sosial. Umat Islam dipimpin oleh para ulama dan aktivis Islam akan bergerak dengan satu kata, lawan! Lawan kezaliman! Lawan kebohongan! Lawan pembodohan!

Allah Akbar, Allah Akbar, laa ilaaha illallah, Wallah akbar, Allah akbar, Wa lillahil hamd.

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.

Apakah kebencian antara sesama masyarakat akan kita biarkan? Apakah permusuhan antara pemerintah dan rakyat akan kita biarkan? Apakah permusuhan antara pemerintah dan rakyat akan kita diamkan? Apakah boleh perpecahan antara umat kita biarkan? Tidak! Kita tidak boleh membiarkannya! Sungguh kita tidak boleh membiarkannya! Karena kita di Indonesia ini bersaudara. Kita adalah saudara sebangsa. Kita adalah saudara sesama manusia. Lebih dari itu, kebanyakan kita adalah saudara seagama.

Orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al-Hujurat ayat 10).

Kaum Muslimin dan Muslimat hafizakumullah.

Jangan pertanyakan kecintaan umat Islam terhadap Indonesia. Jangan ragukan betapa umat Islam sangat cinta kepada agamanya, tanah airnya, bangsanya, negerinya, budayanya. Jangan ragukan betapa umat Islam sangat cinta kepada persatuan, perdamaian, dan keamanan. Sejarah membuktikan demi kemerdekaan Indonesia, umat Islam bangun mengorbankan jiwa raganya melawan penjajah. Demi persatuan dan kesatuan Indonesia, umat Islam membuang 7 kata sakti dalam Piagam Jakarta. Demi menjaga NKRI dan merangkul umat lainnya, umat Islam mau menerima pancasila sebagai dasar negara.

Maka sungguh menyakitkan tuduhan-tuduhan yang mengatakan bahwa kita umat Islam anti-pancasila, anti-NKRI, anti-kebinekaan, radikal dan teroris. Bagaimana umat Islam anti-pancasila sementara pancasila adalah hadiah umat Islam untuk bangsa ini? Apakah berbeda pendapat dengan presiden bisa dianggap anti-pancasila? Apakah berbeda pendapat dengan pemerintah bisa disebut anti-NKRI? Apakah berbeda pendapat dengan penegak hukum bisa dituduh anti-kebinekaan?

Tuduhan-tuduhan ini menyakitkan. Tuduhan-tuduhan ini membangkitkan amarah. Tuduhan-tuduhan ini memicu perpecahan. Marilah kita akhiri kegaduhan nasional ini. Marilah kita akhiri kebencian ini. Marilah kita akhiri permusuhan ini. Sungguh masyarakat yang gaduh, saling membenci dan bermusuhan tidak akan bisa membangun, tidak akan bisa maju, tidak akan mampu bersaing di era persaingan ketat antara negara-negara dunia seperti sekarang ini. Berpecah belah itu mudah. Bersatu padu itu susah. Oleh karena itu, persatuan itu mahal harganya. Persatuan itu perlu diusahakan. Persatuan itu perlu dijaga. Bersatu padu itu adalah perintah Allah dan bercerai berai itu adalah larangan Allah.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran ayat 103)

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.

Marilah kita sadari dengan sesadar-sadarnya, Indonesia adalah rumah besar kita. Di dalamnya ada orang Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan lainnya. Di dalamnya ada penduduk beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Di dalamnya ada beragam bahasa, adat istiadat, dan kebudayaan. Keragaman dan perbedaan ini marilah kita rawat agar menjadi nada simfoni yang harmonis dan saling melengkapi. Keragaman dan perbedaan ini marilah kita pelihara agar menjadi aneka bunga di taman yang indah. Keragaman dan perbedaan ini jangan dimusuhi dan jangan dijadikan sebagai sumber permusuhan.

Hal terpenting untuk merawat keragaman dan perbedaan ini ialah hendaknya kita semua saling menghormati, saling menghargai dan menjaga diri dari fitnah,namimah atau adu domba, hasad, ujaran kebencian, penghinaan, dan kata-kata keji serta caci maki, baik secara langsung maupun media sosial. Selain itu, hukum harus ditegakkan dengan seadil-adilnya. Hukum harus menjadi panglima. Hukum harus ditaati baik oleh rakyat maupun penegak hukum itu sendiri. Pemerintah dan penegak hukum hendaknya berlaku adil terhadap seluruh masyarakat dan tidak tebang pilih. Seharusnya sudah tidak ada lagi kriminalisasi dan pembunuhan karakter terhadap para ulama dan aktivitas Islam. Semestinya sudah tidak boleh ada lagi tuduhan semena-mena terhadap umat Islam bahwa mereka makar, radikal, teroris, anti-Pancasila, anti-NKRI dan anti-kebinekaan.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah.

Kita tidak ingin apa yang terjadi di Timur Tengah terjadi di Indonesia. Kita tidak ingin Indonesia berperang sesama sendiri dan terpecah belah menjadi negara-negara kecil yang mudah dikuasai asing dan aseng. Justru kita bangsa Indonesia sebagai bangsa dan umat Islam besar dunia, seharusnya menjadi contoh dan teladan untuk negara-negara lainnya. Kita adalah bangsa besar yang seharusnya dikagumi oleh bangsa-bangsa lain, karena melaksanakan prinsip-prinsip toleransi dan keadilan dalam kebinekaan.

Hal ini senada dengan lirik lagu Indonesia Pusaka berikut:

Indonesia tanah air beda

Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

Tetap dipuja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta

Dibuai dibesarkan bunda

Tempat berlindung di hari tua

Sampai akhir menutup mata

Marilah kita bersatu padu menjadikan Indonesia ini sebagai negeri makmur yang diridai Allah ta’ala. Marilah kita pelihara persatuan dan kesatuan Indonesia agar menjadi “baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur”.

Hiduplah negeriku, hiduplah bangsaku, hiduplah Indonesia!

Allah akbar, Allah akbar. Laa ilaaha illalLah. Wallah akbar. Allah akbar. Wa lilLahil hamd.

Kaum muslimin dan muslimat hafizakumullah.

Pagi ini kita boleh bergembira, tapi ingatlah bahwa di antara sanak keluarga kita atau sahabat kita sekarang ini ada yang sedang menderita. Pagi ini kita boleh bersuka ria, tapi ketahuilah bahwa di antara tetangga atau masyarakat kita hari ini banyak yang sedang sengsara. Pagi ini kita boleh tersenyum bahagia, tapi sadarilah bahwa umat Islam di seluruh pelosok dunia masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Saudara-saudara kita di Palestina, Syria, selatan Thailand, selatan Filipina, dan Myanmar masih memerlukan bantuan dan solidaritas kita. Sungguh saudara-saudara kita di Gazza dan Rohingya sekarang ini memerlukan uluran tangan kita semua.

Bergembiralah, bersukarialah dan berhiburlah sekedarnya, tanpa melampaui batas dan melanggar tuntutan agama. Pergunakanlah peluang Hari Raya ini untuk mencapai keridaan Allah dengan mengunjungi kedua ibu bapak, sanak keluarga, jiran tetangga, para sahabat dan rekan-rekan. Pereratkan silaturrahim dan marilah kita saling memaaf-maafkan. Hiburlah mereka yang kini sedang menderita. Santunilah anak-anak yatim, kaum fakir miskin, para janda,ibnu sabil dan mereka yang menyambut hari raya kali ini dalam keadaan daif lagi susah. Hargailah warga tua. Hormatilah jiran tetangga. Perkokohkan persaudaraan dan perpaduan. Jadilah umat yang mursali lagi penyayang. Umat yang dikagumi lagi diperhitungkan.
Akhirnya wahai kaum muslimin dan muslimat sekalian, marilah kita sama-sama berdoa kepada Allah, semoga kehidupan kita di dunia ini semakin baik dan berkualitas, dan kelak kita dipanggil menghadap Allah dalam keadaanhusnul khatimah. Ya Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pemaaf, kami adalah hamba-hambaMu yang banyak membuat dosa. Bahkan kami adalah hamba-hambaMu yang bangga dengan dosa-dosa dan senantiasa bandel dan menangguhkan taubat. Kini kami mengakui segala dosa-dosa kami. Kini kami menghalalkan hati kami menengadahkan tangan kami. Memanjatkan doa kami untuk memohon keampunan-Mu. Oleh karena itu, ya Allah, ampunkanlah dosa-dosa kami, maafkanlah keterlanjuran kami dan terimalah taubat kami.

Ya Allah Yang Maha Menyatukan hati, sucikanlah hati kami, terangilah hati kami, dan rukunkanlah di antara hati kami. Kokohkanlah persatuan kami, perbaikilah hubungan di antara kami. Jadikalah kami kumpulan anak muda yang menghormati orang tua, dan kumpulan orang tua yang menyayangi anak muda. Jadikanlah kami penduduk negeri yang saling menghormati, menyayangi dan bertoleransi.

Ya Allah Yang Maha memelihara sesama jiwa, peliharalah kami dari benih-benih kebencian, kedengkian dan perpecahan. Hindarkan kami dari kezaliman, kefasikan, dan kemunafikan. Dan jauhkan kami daripada sifat sombong, kasar dan sifat-sifat tercela lainnya.

Ya Allah Yang Maha Bijaksana, kurniakan kepada kami pemimpin-pemimpin negeri yang takut kepadaMu dan menyayangi kami. Pemimpin-pemimpin yang membawa kami kepada kesejahteraan duniawi dan menunjukkan kepada kami jalan menuju sorgaMu. Pemimpin-pemimpin yang bekerja untuk masalahat kami dan kebahagian kami dan bekerja untuk menggapai kasih sayangMu.

Ya Allah Yang Maha Pengasih tiada pilih kasih. Maha Penyayang sayangNya tiada terbilang, berilah kami jalan keluar bagi semua krisis dan masalah yang membelenggu kami. Angkatlah kami dari keterpurukan, kemiskinan, dan kebodohan. Peliharalah kami dari segala maksiat terhadapMu.

Ya Allah yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya, yang menyambut orang berdosa apabila kembali dengan taubatnya, yang mengijabah segala doa hambaNya, kabulkanlah doa kami. Perkenankanlah permohonan kami. Penuhilah harapan kami.

_Oleh: Ustadz Abdul Somad, Lc., MA_

40 tahun lamanya ia hidup menjadi laki-laki yang sholeh, tapi untuk mewujudkan rahmatan lil 'alamin tidak akan terwujud. Kenapa? Karena ia sholeh hanya untuk dirinya sendiri, sholeh untuk Khadijah, sholeh untuk Ruqoyah, sholeh untuk Fatimah, tapi tidak untuk rahmatan lil 'alamin, karena ia sholeh untuk keluarga, istri dan anaknya.

Turun wahyu kepadanya 13 tahun lamanya, dapatkah ia mewujudkan rahmatan lil 'alamin? Tidak, karena dia tertekan, ditekan oleh orang-orang yang tidak senang kepada wahyu yang dia terima, maka rahmatan lil 'alamin tidak terwujud di atas muka bumi Allah SWT.

Masuk Islam orang-orang yang kaya, orang-orang yang berkuasa, orang-orang yang diberikan Allah SWT usia muda, tetapi tetap saja dia tidak dapat mewujudkan Islam rahmatan lil 'alamin. Kapan rahmatan lil 'alamin itu baru terwujud? Bukan dengan kenabian, bukan dengan Al-Quran di tangan, tetapi setelah tegaknya khilafatun nubuwwah. Oleh sebab itu, tidak akan ada yang dapat mewujudkan rahmatan lil 'alamin selain dari pada khilafatun nubuwwah, khilafatun ala minhaj nubuwwah.

Jika seluruh umat ini tidak mempedulikan khilafah ini, maka ia sudah menyia-nyiakan pesan nabinya Muhammad SAW, karena nabi mengatakan: "Siapa yang hidup sesudahku nanti, ia akan melihat ikhtilafan khatsiran, akan banyak ikhtilaf, akan banyak firqah dan kelompok, maka kalian kata nabi, aku pesankan 'alaikum bi sunnati, ikuti sunnahku, wa sunnati khulafa' rasyidin." Kenapa yang dia sebut khulafa'?

Karena yang dia inginkan adalah khilafatun nubuwwah yang dijanjikan oleh Allah dan rasul SAW, 'alaikum bisunnati, ikuti sunnahku, wa sunnati khulafa' rasyidin al-mahdi ilal ba'di. Jangan kalian pegang dengan tangan, mungkin ia akan lepas. Gigitlah pakai gigi geraham.
Petir menyambar, apapun yang terjadi, ombaknya mulai kuat, anginnya mulai kencang, kalau kau gigit pakai gigi geraham, ia tidak akan lepas untuk selamanya.

Hari ini pesan inilah yang disia-siakan, pesan ini yang tidak dilaksanakan. Ada sekelompok umat yang masih istiqamah memegang ini, lalu kalau ada orang yang tidak dapat mengikutinya, andai kau belum sanggup untuk menegakkan kebenaran, paling tidak jangan engkau turut dalam kebatilan.

Dosa terbesar umat ini bukanlah minum khamer, karena dia akan mabuk untuk dirinya sendiri. Andai ada orang berzina mungkin itu hanya untuk 2 orang dan 2 keluarga besar. Tapi khilafah ini disia-siakan, maka tak terwujudnya rahmatan lil 'alamin dirasakan oleh dari sejak ikan lumba-lumba yang dipertontonkan di tengah anak-anak yang mestinya mendapatkan keadilan sampai kepada anak yatim, sampai kepada anak yang dalam fitrah, sampai kepada alam semesta tidak mndapatkan rahmatan lil 'alamin. Apa sebabnya? Sebab utama karena tidak tegaknya khilafah yang telah diperintahkan oleh Allah SWT.

Maka satu-satunya jalan adalah menegakkan yang sudah pernah ditegakkan oleh sayidina wa maulana Muhammad SAW yang diteruskan oleh sayidina Abu Bakar, Umar, Utsman, wa Ali, maakulu shahabati rassulillahi'ajmain, sampai akhirnya ditumbangkan oleh Mustafa Kemal At-Taturk pada tahun 1924. Sejak itu umat Islam tercerai-berai, berkeping, hancur, seperti anak yatim kehilangan induk. Maka hari ini jika ada orang yang mengatakan rahmatan lil 'alamin, sanggupkah istriku mengatakan Islam rahmatan lil 'alamin jika matanya lebih banyak melihat sinetron dari pada Al-Quran..??? Sanggupkah anak-anakku mengatakan Islam rahmatan lil 'alamin kalau otaknya, kepalanya sudah dicuci dengan game online, play station??? Sanggupkah ulamaku mengatakan Islam rahmatan lil 'alamin lalu kepalanya sudah diisi LIBERALISME, SEKULARISME..??? Sanggupkah umaro' (pemimpin)-ku mengatakan Islam rahmatan lil 'alamin lalu dalam kepalanya bercengkrama DEMOKRASI, LIBERAL, SEKULER YANG DATANG DARI BARAT. Maka jalan satu-satunya adalah kembali kepada ajaran ISLAM, yang telah kutinggalkan kepada kalian tak banyak, hanya dua saja, kitaballah wa sunnati. Kitaballah Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Jika kamu tidak paham dan mengerti tanya ke orang yang tahu, tanya kepads orang yang faham, inkuntum ta'lamun.

Kehadiran HTI ingin merangkul, bukan memukul. Ingin mengajak bukan mengejek. Semua golongan lapisan masyarakat yang kaya dengan hartanya, yang ulama dengan ilmunya, tokoh adat tokoh masyarakat dengan petatah petitihnya. Semuanya bertujuan untuk satu, tegakkan syariat Allah. Itulah cara kita menolong agama Allah.

"In tansurullah, kalau kau tolong agama Allah ini. Yan surkum, maka Allah akan menolongmu. Wa yutsabbit aqdamaqum, ia akan menegakkan kakimu diatas agamanya." (QS.Muhammad : 7).

Tiap hari kita mengatakan wahai Engkau yang membolak-balikkan hati, kokohkan hatiku dalam agama-Mu, tapi tak pernah sekalipun kita tolong agama Allah ini. Jangan pernah bermimpi, Allah akan sia-siakan kita, Allah akan bangkitkan kita dalam penyesalan panjang. Maka tolonglah agama Allah dengan apa yang kita mampu.

Oleh: Prof. Ahmad Mansur Suryanegara

PERJANJIAN TORDESILAS (1494) sbg perjanjian yang berisikan kewenangan yang diberikan oleh PAUS ALEXANDER VI kepada Kerajaan Katoĺik Portugis untuk menguasai dunia belahan timur. Dan kepada Kerajaan Katolik Spanyol untuk menguasai dunia belahan barat. Atas dasar Perjanjian Tordesilas (1494) awal lahirnya Imperialisme atau Penjajahan.

Enam belas tahun kemudian, Kerajaan Katolik Portugis masuk ke Malaka (1510). Akibat Kerajaan Katolik Spanyol melanggar pembagian Wilayah Jajahan yang ditetapkan dlm  Perjanjian Tordesilas, memasuki Maluku dan Filipina Selatan (1521), menjadikan Kerajaan Katolik Portugis menduduki KALAPA (1522).

Di bawah kondisi yang demikian ini, Kerajaan Islam Demak dan Cirebon terjepit oleh kedua kerajaan imperialis.

Pada saat masuknya kedua imperialis ke Asia Tenggara, Kerajaan Budha Sriwijaya dan Kerajaan Hindu Majapahit sudah tidak dapat melanjutkan sejarahnya.

Itulah sebabnya Islam: Kerajaan Islam Demak dan Cirebon tampil ke depan  memimpin melancarkan perlawanan.

Perlawanan ini dipimpin oleh Cucu PRABU SILIWANGI yakni  SYARIF HIDAYATULLAH dan Menantunya, FATAHILLAH. Dampaknya lahirlah JAYAKARTA atau JAKARTA, 22 Juni 1527 atau 22 Ramadhan 933 H.

Seratus tahun kemudian datanglah imperialis kedua, Verenigde Oost Compagnie - VOC. Berhasil merebut JAYAKARTA dan digantikan dengan nama BATAVIA (1619). Sebenarnya Belanda masih dijajah oleh Kerajaan Katolik Spanyol. Dalam perangnya selama 80 th ( 1524 -1648 ), berhasil merdeka (1648 ). Kelanjutannya berdirilah Kerajaan Protestan Belanda.

Perang Agama di Eropa Katolik kontra Protestan, diekspor ke Nusantara Indonesia. Menurut J.C van Leur, pecahlah Perang Agama Segitiga: Katolik kontra Protestan. Islam sbg Pribumi melawan kedua Imperialis atau Penjajah Barat.

Saat inilah awal pertama kalinya Islam sbg Pribumi mempertahankan tanah air sendiri, dituduh INTOLERANCE. Padahal yang membawa Perang Agama ke Nusantara Indonesia adalah kedua imperialis tersebut.

Tanggapan thd Opini Prof. Moh. Mahfud MD ttg Khilafah

Oleh: Prof. Dr. Ing. H. Fahmi Amhar

Tulisan Prof. Moh Mahfud MD di harian Kompas edisi 26 Mei 2017 berjudul "Menolak Ide Khilafah" telah memulai sebuah diskursus tingkat elit intelektual di negeri ini.  Kalau dulu diskursus ini ibaratnya hanya terjadi di antara para “prajurit” – bahkan “prajurit cyber”, maka kini para “senapati” sudah turun gelanggang. 

Saya memahami kalau Prof. Mahfud mendapatkan pernyataan yang dirasakan “tidak cukup bermutu” dari seorang aktivis ormas Islam yang “nobody”.  Bayangkan, seorang guru besar, Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN); dan Ketua Mahkamah Konstitusi RI Periode 2008-2013, ditanya dengan nada marah dan merendahkan dari seseorang yang mungkin bahkan tidak hafal pembukaan UUD 1945.

Saya sendiri tidak merasa pantas untuk memberi komentar terhadap tulisan Prof. Mahfud tersebut.  Namun sebagai anak bangsa, hak saya untuk berpendapat tentu saja dilindungi oleh konstitusi.

Saya bukan alumnus kampus-kampus yang dinilai Ketua Umum PB NU Said Agil Siradj tempat persemaian radikalisme.  Saya S1 sampai S3 di Vienna University of Technology, Austria, sebuah negara demokratis di Eropa.  Saya sepuluh tahun di sana.  Sepertinya Austria negara yang sudah adil dan makmur, meski tidak mengenal Pancasila.  Saya tidak belajar hukum secara khusus, melainkan hanya beberapa mata kuliah. Namun di tahun 1987 saya sudah mengenal tentang Constitutional Court, sesuatu yang saat itu belum pernah saya dengar di Indonesia.  Saya juga ikut menyaksikan ketika tahun 1989-1991 negara-negara Blok Timur berubah dari komunis ke kapitalis.  Dan saya juga menyaksikan bagaimana Austria melakukan referendum untuk bergabung ke Uni Eropa atau tidak.

Saya melihat, dalam sistem demokrasi, sistem di Austria berbeda dengan Jerman, Swiss atau Perancis, meski sama-sama Republik.  Sistem demokrasi juga diterapkan di Inggris atau Belanda, meski mereka menganut monarki.  Ini artinya, orang bisa sama-sama menerima demokrasi tanpa mempersoalkan “demokrasi yang seperti apa?”. 

Pertanyaannya, mengapa untuk demokrasi kita bisa seperti itu, tetapi untuk sistem pemerintahan Islam - Khilafah - kita tidak bisa?  Kenapa kita menolak ide khilafah dengan argumentasi tidak ada bentuk yang baku, khususnya cara suksesi kepemimpinan?  Sebenarnya kita bisa lebih arif, setidaknya menantang diskusi bahwa ide khilafah adalah sebuah alternatif dari suatu kemungkinan kebuntuan politik.

Dalam sejarahnya, Republik Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 pernah berubah-ubah. Tak sampai tiga bulan setelahnya, yakni pada 14 November 1945, Presiden Soekarno sudah mengubah sistem presidensil menjadi parlementer.  Pasca Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Indonesia berubah menjadi negara federal (RIS).  Lalu tahun 1950 kembali ke NKRI dengan UUDS-1950 yang bunyi sila-sila dari Pancasila sangat berbeda.  Pasca dekrit 5 Juli 1959 kembali ke UUD-1945 tetapi masih mengakui Partai Komunis Indonesia (PKI).  Inti dari sejarah ini, saya bertanya-tanya: benarkah dulu para pendiri bangsa menganggap UUD1945 itu adalah final?  Kalau final, kenapa disisakan sebuah pasal 37 yang memungkinkan UUD1945 diubah?  Kalau benar wilayah NKRI itu final, mengapa tahun 1976 kita menerima Timor Timur berintegrasi, lalu tahun 1999 kita lepas lagi?  Kalau konstitusi NKRI itu final, mengapa pasca reformasi kita amandemen berkali-kali?

Oleh karena itu, kalau kita menuduh kelompok pro-khilafah itu radikal dan telah “terindoktrinasi” atau boleh juga “tercuci-otaknya”, tidakkah jangan-jangan kita juga tercuci otaknya dengan jargon “NKRI harga mati”? 

Karena tinggal di Eropa yang sangat demokratis (bahkan agak liberal), sejak akhir 1980-an, saya cukup bebas mengenal berbagai ideologi di dunia.  Buku “Das Kapital” – Karl Marx misalnya, saya baca pertama kali di Austria, karena di Indonesia dilarang.  Di Austria, buku-buku komunisme sama bebasnya dengan buku-buku anti komunis.  Pada masyarakat mereka yang maju, komunisme tidak dianggap ancaman.  Partai Komunis Austria ada, tetapi tak pernah meraih kursi dalam pemilu. 

Waktu itu, belum ada internet, namun bacaan-bacaan yang bebas itu bahkan mampu menembus tirai besi di negara-negara komunis, yang di sana cuma ada satu koran, satu radio, satu televisi dan satu partai, yang semuanya komunis.  Dunia akhirnya menyaksikan keruntuhan adidaya komunies Uni Soviet tahun 1991. 

Karena itu, tak heran di Austria juga saya mengenal berbagai gerakan Islam, termasuk di antaranya yang memperjuangkan suatu negara Islam global, khilafah.  Untuk orang-orang di negara adil makmur seperti Austria, dakwah memerlukan rasionalitas yang sangat kuat.  Mereka tidak bisa menjual perlawanan kepada otoritas publik yang sudah melayani rakyat dengan baik.  Mereka juga tak bisa menjual dogma pada masyarakat yang sudah berpikir sangat rasional.  Bahkan soal iman pun tidak bisa mengandalkan warisan seperti ditulis oleh ananda kita Afi Nihaya.  Faktanya, gender, suku, ras, kelas sosial bisa diwariskan, tetapi jutaan warga Eropa mencari dan menemukan sendiri agamanya dengan bekal akal sehat karunia Tuhan pada mereka.

Oleh karena itu, ide khilafah perlu untuk ditantang dengan lebih arif secara akademis.  Sama kalau dalam pelajaran sekolah kita memberi tahu anak-anak kita tentang sistem kerajaan vs sistem republik, demokrasi vs diktatur, kenapa kita keberatan, bahkan ketakutan untuk memperkenalkan sistem khilafah, yang diklaim bukan kerajaan, bukan republik, bukan demokrasi dan juga bukan diktatur?  Lantas mahluk apakah ini?

Sependek yang saya tahu, inti dari sistem khilafah itu bukan model suksesi seperti yang Prof. Mahfud katakan sebagai “tidak baku” dan “ijtihadiyah”.  Adanya berbagai varian suksesi – yang semua tidak diingkari oleh para shahabat Nabi radhiyallah anhuma – justru menunjukkan keunikan sistem ini.  Orang yang akan dibai’at sebagai khalifah boleh dipilih dengan permusyawaratan perwakilan (seperti kasus Abu Bakar), dinominasikan pejabat sebelumnya (seperti kasus Umar, yang kemudian disalahgunakan oleh berbagai dinasti kekhilafahan), dipilih langsung (seperti kasus Utsman), atau otomatis menjabat (seperti kasus Ali, karena dia saat itu seperti wakil khalifah).  Semua ini bisa dilakukan, dan bisa mencegah terjadinya krisis konstitusi, yaitu suatu kebuntuan ketika presiden sebelumnya sudah habis masa jabatannya, dan presiden yang baru belum definitif.

Itu baru sebuah contoh.  Memang yang saya lihat selama ini ada jurang komunikasi antara pakar tata negara seperti Prof. Mahfud dengan gerakan pro khilafah seperti HTI.  Bahkan terma “demokrasi” saja didefinisikan dan dimengerti secara berbeda  Bagi HTI, sejauh yang saya tahu, demokrasi itu bukan sekedar prosedural seperti kebebasan bersuara, berserikat, adanya partai-partai politik, pemilu dan parlemen, tetapi demokrasi adalah ketika suara rakyat bisa di atas suara Tuhan, ketika hawa nafsu rakyat bisa mengalahkan dalil halal-haram kitab suci.  Inilah demokrasi di Eropa yang bisa melegalkan nikah sesama jenis, atau melarang jilbab di ruang publik.

Pancasila dalam redaksi saat ini, tidak menyebut demokrasi, tetapi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”.  Sila ini dimaknai berbeda pada era Orde Lama, Orde Baru atau Reformasi.  Demikian juga ekonomi Pancasila, ada aneka tafsir yang bertolakbelakang antara ekonomi terpimpin ala Orde Lama, ekonomi kapitalis ala Orde Baru, dan ekonomi neoliberal ala Reformasi.  Bukankah di sini sama tidak jelasnya dengan ide khilafah menurut Prof. Mahfud ?  Oleh karena itu, menurut saya, khilafah sebagai ide sah-sah saja ditantang dalam meja diskusi dengan pikiran dingin dalam rangka mendapatkan solusi kehidupan berbangsa.

Prof. Dr. Fahmi Amhar
Anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE).
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan bukan pendapat IABIE.

Oleh  : KH. M. Shiddiq Al Jawi

Tak lama lagi kaum Muslim akan meninggalkan Ramadhan dan memasuki bulan Syawal. Setelah sebulan lamanya berpuasa, tibalah mereka merayakan Idul FitriLebaran. Apa saja hukum-hukum di seputar Idul Fitri dan bagaimana kaum Muslim menjalani bulan-bulan berikutnya pasca Ramadhan?
Sunnah Idul Fitri ada tiga; yaitu berjalan menuju lapangan tempat shalat (mushala), makan sebelum keluar rumah, dan mandi.

Banyak di antara umat Islam yang menganggap Idul Fitri sekadar makan-makan, hura-hura. Padahal banyak persoalan hukum terkait Idul Fitri atau lebaran ini. Maka, seharusnya sebagai seorang Muslim mengetahui persoalan fiqih seputar masalah tersebut.

Fiqih Lebaran di sini maksudnya adalah sejumlah hukum syara yang terkait dengan hari raya Idul Fitri, baik sebelum, pada saat, maupun sesudah shalat Idul Fitri. Berikut ini di antara hukum-hukum syara tersebut :

(1). Diwajibkan secara fardhu kifayah untuk melakukan rukyatul hilal bulan Syawal pada saat maghrib malam ke-30 bulan Ramadhan. Hal ini karena menurut ulama empat mazhab rukyatul hilal inilah yang merupakan sebab syari bagi pelaksanaan shalat Idul Fitri, termasuk hukum-hukum lain yang terkait, seperti zakat fitrah dan takbiran pada malam Idul Fitri. Sabda Rasulullah SAW,Berpuasalah kamu karena melihat hilal [Ramadhan], dan berbukalah kamu (beridul fitrilah) karena melihat hilal [Syawwal] (HR Bukharino 1810; Muslim no 1080).

(2).Diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah pada malam Idul Fitri bagi yang mempunyai kelebihan makanan pada malam itu, meski dibolehkan menyegerakan mengeluarkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan. Zakat fitrah berupa makanan pokok dengan takaran satu sha (sekitar 2,5 kg), bukan berupa uang. Demikian menurut jumhur ulama Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah. (AlMudawwanah alKubra, 1/392; AlMajmu, 6/112; AlMughni, 7/295).

Zakat fitrah dibagikan kepada siapa? Ada dua pendapat; pertama, kepada seluruh mustahiq zakat dari delapan golongan. Ini pendapat jumhur ulama empat mazhab. Kedua, khusus kepada kaum miskin saja. Ini pendapat sebagian ulama, seperti Ibnul Qayyim. Yang rajih, pendapat jumhur. (Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/387).

(3).Disunnahkan takbiran sejak malam Idul Fitri, baik di rumah atau di jalan menuju lapangan/masjid, hingga keluarnya imam untuk mengimami shalat Idul Fitri. Dalam lafal takbir ini dibolehkan bertakbir dua kali allahu akbar allahu akbar dst dan boleh juga tiga kali allahu akbar allahu akbar allahu akbar dst. (Imam Nawawi, Al Adzkar An Nawawiyyah, hlm. 237). Dalil bertakbir dua kali adalah atsar dari Ibnu Masud ra, dia bertakbir, Allahu akbar allahu akbar, laa ilaaha illallahu wallaahu akbar, allahu akbar wa lillahil hamd. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, 2/168).

Namun dari Ibnu Masud ra juga, bahwa beliau bertakbir sebanyak tiga kali(Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, 2/165). Kedua sanad hadits tersebut sama-sama shahih, sebagaimana penjelasan Syeikh Nashiruddin Al Albani dalam kitabnya Irwa`ul Ghalil juz 3 hlm. 125. Jadi berlebihan kiranya kalau ada yang membidahkan lafal takbir sebanyak tiga kali. Imam Shanani berkata,Terdapat tatacara takbir yang bermacam-macam dari para imam. Ini menunjukkan adanya kelonggaran (tawassuah) dalam urusan ini. (Subulus Salam, 3/247).

(4). Disunnahkan mandi pada pagi hari sebelum shalat Idul Fitri, juga makan sebelum keluar rumah, dan berjalan menuju lapangan tempat shalat (mushala). Dari Said bin Musayyab, dia berkata, Sunnah Idul Fitri ada tiga; yaitu berjalan menuju lapangan tempat shalat (mushala), makan sebelum keluar rumah, dan mandi. Kata Syeikh Nashiruddin Al Albani dalam Irwa`ul Ghalil, 3/104, Sanad riwayat tersebut shahih. (Said Al Qahthani, Shalatul Iedain, hlm. 12).

(5). Disunnahkan memakai wewangian dan bersiwak, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas mengenai adab shalat Jumat,Jika ada wewangian, maka gunakanlah wewangian dan juga bersiwaklah. (HR Ibnu Majah, 1/326). Kata Imam Ibnu Qudamah, Jika ini disyariatkan untuk shalat Jumat, maka untuk shalat Ied tentu lebih utama. (Ibnu Qudamah, Al Mughni, 3/257).

(6). Disunnahkan memakai pakaian terbaik pada Idul Fitri. Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan bahwa Imam Ibnu Abi Dunya dan Imam Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanad sahih bahwa Ibnu Umar ra memakai pakaiannya yang terbaik pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. (Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Bari, 2/439).

(7). Disunnahkan pergi ke lapangan tempat shalat (mushala) melalui satu jalan dan pulang melalui jalan lain. Karena demikianlah apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. (HR Bukhari no 986).

(8).Disunnahkan secara sunnah mu`akkadah untuk shalat Idul Fitri. Inilah pendapat madzhab Syafii yang menurut kami paling kuat mengenai hukum shalat Idul Fitri/Adha di antara tiga pendapat ulama yang ada; pertama, hukumnya fardhu kifayah. Ini pendapat Imam Ahmad. Kedua, hukumnya fardhu ain. Ini pendapat Imam Abu Hanifah dan satu versi riwayat dari pendapat Imam Ahmad. Ketiga, hukumnya sunnah, tidak wajib. Ini pendapat Imam Malik dan mayoritas para shahabat Imam Syafii. (Said Al Qahthani, Shalatul Iedain, hlm. 7).

(9). Disunnahkan shalat Idul Fitri di lapangan (mushala), namun boleh juga mengerjakannya di masjid meski yang lebih afdhal adalah di lapangan. Hal ini karena Rasulullah SAW melakukan shalat Idul Fitri dan Idul Adha di mushala, yakni tempat lapang yang jaraknya seribu hasta dari pintu masjid Nabawi di Madinah. (HR Bukhari no 956, Muslim no 889, dari Abu Said Al Khudri ra).

(10). Tidak disyariatkan shalat apa pun sebelum dan sesudah shalat Idul Fitri. Dalilnya, hadits Ibnu Abbas ra bahwa Nabi SAW keluar pada Idul Fitri dan melakukan shalat Idul Fitri dua rakaat dan beliau tidak melakukan shalat sebelum dan sesudahnya. Nabi SAW saat itu bersama Bilal. (HR Bukhari no 989; Muslim no 884).

(11) Tidak disyariatkan adzan dan juga iqamah dalam shalat Idul Fitri/Adha. Dalilnya hadits dari Jabir bin Samurah ra, dia berkata.Saya pernah shalat Idul Fitri dan Idul Adha bersama Nabi SAW tak hanya sekali atau dua kali, dan shalat tersebut tanpa adzan dan juga tanpa iqamah. (HR Muslim, no 887).

(12). Disyariatkan khutbah setelah selesainya shalat Idul Fitri. Para ulama berbeda pendapat apakah khutbahnya itu dua kali khutbah seperti khutbah Jumat ataukah hanya sekali khutbah. Fuqaha empat mazhab sepakat khutbah Ied itu dua khutbah seperti khutbah Jumat. Bahkan Imam Ibnu Qudamah dan Ibnu Hazm menegaskan dalam masalah ini sesungguhnya para fuqaha tak berbeda pendapat. (Abdurrahman Jazairi, Al Fiqh Ala Al Mazahib Al Arbaah, 1/238).

Namun sebagian fuqaha berpendapat khutbah Ied hanya satu khutbah, bukan dua khutbah. Inilah pendapat Imam Syaukani, Imam Shanani, dan lain-lain. (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 695; Imam Shanani, Subulus Salam, 2/679). Pendapat yang rajih, khutbah Ied dilaksanakan dua kali, bukan satu kali. (Mahmud Uwaidhah, Al Jami li Ahkam As Shalah, 2/177).
(13) Dibolehkan mengucapkan selamat (tahni`ah) setelah shalat Ied, dengan ucapan,Taqabbalallahu minnaa wa minka/minkum. (semoga Allah menerima amal kami dan amal Anda). (Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Bari, 2/446). Memulai mengucapkan selamat adalah boleh, namun menjawabnya wajib. (Ibnu Taimiyyah, Majmuul Fatawa, 24/253). Wallahu alam.