Kita adalah Manusia
Sebagaimana
kita sadari bahwa sebagai manusia kita tidak pernah terlepas secara bebas
dengan istilah lupa dan khilaf. Seperti itulah, hadits Rosululloh SAW
menggambarkannya. Dalam lanjutannya, mengingat periihal kelemahan serta
kesalahan manusia itu, beliau menyampaikan “dan sebaik-baiknya orang yang
bersalah adalah yang bertobat”. Seperti itulah proses tanpa akhir dalam hidup
ini. Untuk terus memperbaiki diri, untuk terus meningkatkan keimanan serta
ketaqwaan kepada Allah SWT.
“setiap
anak Adam pasti bersalah, dan orang yang bersalah yang paling baik adlaah yang
bertobat” (HR. Ahmad, Nasa’i dan Hakim)
Bertobat
itu Wajib
Hukum
dari bertobat adalah sebuah kewajiban. Yang memiliki makna, mau atau tidak mau,
suka atau tidak suka, harus dilakukan. Yang menunjukan bahwa hidup ini harus
dinamis, memiliki grafik yang naik menanjak terus seiiring berjalannya waktu.
Allah SWT telah
berfirman dalam kitab suci Al-Quran :
"Dan
bertaubatlah engkau semua kepada Allah, hai sekalian orang Mu'min, supaya
engkau semua memperoleh kebahagiaan." (an-Nur: 31)
"Mohon
ampunlah kepada Tuhanmu semua dan bertaubatlah kepadaNya." (Hud: 3)
"Hai
sekalian orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang
nashuha yakni yang sebenar-benarnya." (at-Tahrim: 8)
Dan
lainnya...
Bahkan
dengan tegas perintah Allah SWT ini, dengan mengulangi kata tobat itu sendiri
sebanyak 69 kali dalam Al-Quran.
Begitu
pula, dalam hadits Rosululloh SAW :
Dari
Abu Hurairah r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Demi
Allah, sesungguhnya saya itu niscayalah memohonkan pengampunan kepada Allah
serta bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (Riwayat
Bukhari)
Dari
Aghar bin Yasar al-Muzani r.a. katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Hai
sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah pengampunan
daripadaNya, kerana sesungguhnya saya ini bertaubat dalam sehari seratus
kali." (Riwayat Muslim)
Dari
Abu Hamzah yaitu Anas bin Malik al-Anshari r.a., pelayan Rasulullah s.a.w.,
katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Niscayalah
Allah itu lebih gembira dengan taubat hambaNya daripada gembiranya seseorang
dari engkau semua yang jatuh di atas untanya dan oleh Allah ia disesatkan di
suatu tanah yang luas." (Muttafaq 'alaih)
Dari
Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy'ari r.a., dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Sesungguhnya
Allah Ta'ala itu membeberkan tanganNya - yakni kerahmatanNya –di waktu malam
untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu siang dan juga
membeberkan tanganNya di waktu siang untuk menerima taubatnya orang yang
berbuat kesalahan di waktu malam. Demikian ini terus menerus sampai terbitnya
matahari dari arah barat - yakni di saat hamper tibanya hari kiamat, kerana
setelah ini terjadi, tidak diterima lagi taubatnya seseorang." (Riwayat
Muslim)
Dan
banyak lagi, hadits-hadits yang menjelaskan penting bertobat.
Syarat-Syarat Tobat
Dalam
kitab Riyadhus Sholihin, menerangkan tentang syarat-syarat dalam bertobat.
Jika
kemaksiatan yang terjadi berhubungan langsung kepada Allah Ta’ala saja, maka
ada tiga macam syarat yang harus dilakukan :
- Menghentikan sama sekali (seketika itu juga) dari kemaksiatan yang dilakukan
- Menyesal karena telah melakukan kemaksiatan itu
- Berniat tidak akan kembali mengulangi perbuatan maksiat itu selama-lamanya.
Dan
jika kemaksiatan tersebut berhubungan juga kepada manusia, maka syaratnya ada
empat macam, tiga syarat yang diatas dan :
- Melepaskan tanggungan itu dari hak kawannya, baik itu berupa pengembalian harta, meminta pengampunan / permintaan maaf, atau meminta penghalalan dari hal tersebut.
Taubat
nashuha itu wajib dilakukan dengan memenuhi tiga macam syarat sebagaimana di
bawah ini, yaitu:
- Semua hal-hal yang mengakibatkan diterapi siksa, karena berupa perbuatan yang dosa jika dikerjakan, wajib ditinggalkan secara sekaligus dan tidak diulangi lagi.
- Bertekad bulat dan teguh untuk memurnikan serta membersihkan diri sendiri dari semua perkara dosa tadi tanpa bimbang dan ragu-ragu.
- Segala perbuatannya jangan dicampuri apa-apa yang mungkin dapat mengotori atau sebab-sebab yang menjurus ke arah dapat merusakkan taubatnya itu.
Perbedaan
Mukmin dan Munafik
Perbedaan
orang mukmin dan orang munafik bisa kita lihat dari cara pandang mereka
terhadap sebuah dosa. Jika orang beriman khilaf, tidak sengaja atau dalam
keadaan terpaksa melakukan kesalahan dan dosa, maka mereka memandang dosa itu
sangat besar laksana gunung yang berada di hadapan mereka dan nyaris runtuh
menimpa dirinya, sehingga mereka gusar, gundah gulana dan sangat khawatir atas
keselamatan diri mereka dari reruntuhan gunugn itu, berbeda dengan orang
munafik yang hanya merasakan baagaikan seekor lalat yang hinggap ditubuhnya,
lalu terbanglah lalat itu, tak sedikit pun merasa menyesal dosanya, mereka
memandang remeh dan kecil semua dosa yang mereka lakukan.
“seorang
mukmin melihat dosanya seperti gunung yang nyaris runtuh menimpa dirinya,
sedangkan orang menafik melihat dosanya seperti seekor lalat yang (hinggap di
dirinya) ia usir lalu terbang” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Mas’ud)
Mendirikan
Shalat Tobat
“setiap
orang yang berbuat dosa, kemudian segera bergerak dan berwudhu, kemudian shalat
dan memohon ampun kepada Allah, pasti Allah akan memberikan ampunan baginya” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Shalat
tobat merupakan shalat sunnah dengan berniat shalat tobat, menyesali segala
dosa dan kesalahan yang telah dilakukan dan memohon ampun kepada Allah
SWT.
Tidak
Bertobat = Berbuat Zalim
Bahkan
Allah SWT berfirman, sekiranya manusia itu tidak mau bertobat dan menjaga
tobatnya, maka pada hakikatnya mereka mendzolimi diri mereka sendiri.
“...
dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang
zalim” (al-Hujurat : 11)
Hijab
Hati
Kita
tahu, tirai penutup atau hijab yang memisahkan antara hari seorang hamba dan
Allah azza wa jalla, tiada lain adalah kotoran berupa dosa. Dan jalan pertama
untuk menghancurkan hijab itu adalah dengan bertobat kepada Allah SWT dengan
sebenar-benarnya.
Jika
seorang hamba berbuat dosa, maka di dalam hatinya timbul satu noktah hitam.
Jika ia bertobat dari perbuatan dosa itu, hatinya akan kembali bersih dan
berkilau. Tetapi jika ia menambah perbuatan dosa itu, maka noktah hitam di
hatinya akan bertambah juga. Noktah hitam inilah yang dimaksud oleh Allah dalam
firman-Nya,
“sekali-kali
tidak! Bahkan, apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka” (al-Muthaffifin
: 14)
Mari
Bertobat
Semoga
kita termasuk orang yang senantiasa bertobat.
“Ya
Allah, ampunilah dosaku dan terimalah tobatku, karena Engkau Maha Penerima
Tobat lagi Maha Pengampun” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Referensi
Imam
Nawawi. Riyadhus Sholihin
Ali
Akbar, Zaini. 2009. 3T- Tobat Tasbih Tahajud, Pena Pudi Aksara. Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kami sangat senang dengan komentar anda