Tampilkan postingan dengan label nasionalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasionalisme. Tampilkan semua postingan
Segala puji hanya milik Allah yang Maha menciptakan segala sesuatu termasuk alam semesta dan kita didalamnya. Maha Suci Allah yang telah mengutus Rasulullah kepada kita. Shalawat serta salam tetap tercurah kepada Rasul kita Muhammad Saw, keluarganya, sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman. Dalam kehidupan Rasulullah Saw kita melihat betapa besar perjuangan dan pengorbanannya, cara hidup yang harus kita contoh. Betapa besar cinta beliau kepada Allah dan umatnya terlihat dari bagaimana kehidupannya tidak lepas dari memikirkan umatnya, hingga detik detik akhir hayatnya beliau mengucapkan ummaty, ummaty, ummaty.

Tragedi Rohingya
Muslimin Rohingnya, sejak tahun 1948 sampai sekarang tidak mendapatkan hak-hak mereka sebagai manusia.  Di tahun 1982 ketika pemerintahan Ne Win memberlakukan Undang-Undang Kewarganegaraan, 800.000 orang Rohingya ditolak kewarganegaraannya.  Pada tahun 1991-1992, 250 ribu pengungsi Rohingya membanjiri Bangladesh.  Pada Tahun 2010 saat Thein Sein berkuasa, pemerintah junta militer menuju transformasi demokrasi, dan menjadikan Myanmar sebagai negara yang dipimpin sipil.  Sistem politik dan ekonomi semakin terbuka. Pembatasan penulisan di media sudah makin longgar. Hanya etnis Rohingya yang tidak merasakan perubahan dari keterbukaan Myanmar ini, mereka masih tetap terpinggirkan, miskin dan terlantar.
Setelah konflik yang terjadi antara muslim Rohingya dan Budha Rakine di Juni 2012 lalu, hingga sekarang, kehidupan muslim Rohingya dalam kondisi rusuh dan kritis.  Mereka diteror, dianiaya, bahkan dibunuh oleh militer.  Mereka dipaksa meninggalkan Myanmar, mengarungi lautan hanya menggunakan perahu kayu, dengan sedikit bekal, dan seringkali mesin perahu rusak sehingga mereka terombang-ambing di lautan yang ganas.  Dan ratusan ribu orang mati tenggelam dalam perjalanan. Sampai saat ini, tercatat lebih dari 100.000 muslim Rohingya dibunuh dan mayoritas mereka adalah wanita, anak-anak dan orang tua.  (hizbut-tahrir.or.id, 21/5/2015)

Exodus Rohingya
Menurut BBC (22/5/2015) dan Kompas (22/5/2015) alasan exodus besar-besaran orang-orang Rohingya yang jumlahnya ditaksir 1,3 hingga 1,5 juta jiwa yang tinggal di negara bagian Rakhine dekat perbatasan Myanmar dan Bangladesh. Berawal dari pencabutan sekitar 300.000 kartu identitas penduduk yang dikenal dengan kartu putih bagi orang Rohingya oleh pemerintah Myanmar.
"Bila mereka tetap di Myanmar, mereka akan dimasukkan ke penjara, keselamatan jiwa mereka terancam dan hak pilih mereka sudah dicabut, Oleh sebab itu Rohingya menganggap sekarang waktu yang tepat untuk menyelamatkan diri " kata Mohammad Sadek, pengurus Komite Pengungsi Rohingya Arakan (RARC) di Malaysia

Derita Rohingya Berlanjut
cnnindonesia.com (21/5/2015) membuat sebuah kolom berita yang berjudul “Melihat Nasi dan Lauk, Warga Rohingya Menangis”. Menggambarkan kepada kita tentang Kerinduan yang mendalam terwujud dalam air mata mereka. disana mereka menjelaskan bahwa sekitar tiga bulan mereka tidak makan sambil terisak ketika diberikan dua piring nasi oleh warga desa (20/5/2015)
Kehidupan mereka di laut mengenaskan. Di tengah laut lima orang warga myanmar tiba-tiba datang membawa makanan dan minuman untuk ditukar dengan bagian mesin kapal. Mesin diangkat, bensin juga di bawa, ditukar dengan beras, air, cabe dan garam. Selama dalam perjalanan anak-anaknya sering mendapatkan ancaman dari kru kapal akan dibuang ke laut ketika mereka meminta makan.  Kapal mereka sempat ditolak masuk Angkatan Laut Indonesia dan Malaysia ketika masuk ke perbatasan kedua negara. Selama empat hari mereka terombang-ambing di lautan, dalam kapal yang disebutkan sudah ditinggal oleh kaptennya.

Sikap Negara Tetangga dan Internasional
Reaksi saling tuding pun antara negara Thailand, Malaysia dan Indonesia dituliskan oleh dw.de (15/5/2015)
Indonesia menuduh Malaysia sengaja menarik kapal pengungsi yang lewat di teritorialnya sampai ke wilayah perairan Indonesia. Pemerintah Malaysia menolak tuduhan itu dan menerangkan, para pengungsi memang ingin terus berlayar, sebab Malaysia bukan tujuan mereka.
Sementara Thailand menerangkan, mereka sudah membantu pengungsi dan memberikan makanan yang cukup di atas kapal, tapi tidak bisa menahan pengungsi yang ingin berlayar ke Malaysia dan Indonesia.
Juru bicara Mabes TNI Mayjen Fuad Basya mengakui Indonesia telah meminta sebuah kapal pengungsi Rohingya yang berada di perairan Aceh untuk memutar arah dan tidak mendarat di wilayah Indonesia. Fuad juga mengatakan para pengungsi tersebut diberikan bantuan bahan bakar minyak dan juga makanan untuk dapat bertahan. “Mereka itu masih berada di tengah laut dan kebijakan Panglima TNI (Jenderal Moeldoko) agar mereka yang masih berada di tengah laut untuk dicegat tidak masuk perairan Indonesia,” jelas Fuad kepada wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari.
Melihat sikap negara negara tersebut dunia internasional pun turut bicara seperti yang disampaikan oleh Sekretaris Jendral PBB Ban Ki Moon menyerukan kepada negara-negara di kawasan agar “tetap membuka perbatasan untuk membantu orang yang berada dalam kesusahan”. Dan Organisasi Human Rights Watch mengecam pemerintahan Asia Tenggara yang menurut mereka melakukan permainan “ping pong kemanusiaan”. dw.de (15/5/2015)

Nasionalisme telah mematikan rasa persaudaraan Islam yang telah ditetapkan oleh ‘Aqidah Islam bahkan telah mematikan rasa kemanusiaan itu sendiri.

Inilah buah busuk Nasionalisme
“Inilah buah nasionalisme, yang menjadikan kepentingan nasional di atas segalanya, menghilangkan kepedulian terhadap umat, memecah belah dan memperlemah umat,” Farid Wajdi (mediaumat.com, 14/5/2015)

Rohingya oleh pemerintah Myanmar dianggap sebagai pendatang dari Bangladesh, meskipun mereka secara turun-temurun tinggal di Rakhine. Rezim Myanmar menganggap mereka bukan penduduknya, karena agama yang mereka pegang dan warna kulit mereka yang berbeda. Sedangkan negeri-negeri tetangga pun tidak mengakui mereka walau berkulit sama, karena beda kewarganegaraan katanya. Jadi di negeri lahir mereka ditolak karena beda agama dan warna kulit, juga ditolak oleh saudara seagama dan sewarna kulit karena sebab beda kewarganegaraan. Rohingya refugees, unwanted and stateless, padahal mereka Muslim dan syahadatnya sama seperti kita
Sesungguhnya pengkhianatan pemimpin muslim sudah sangat nyata, dan ini terlihat dari lepas tangannya mereka terhadap persoalan umat Islam dan menyerahkannya kepada masyarakat internasional. Padahal organisasi internasional ini tidak pernah menyelesaikan masalah apapun.  Sebagai contoh, masalah Palestina masih dalam  koridor PBB sejak lima sampai enam puluh tahun lalu.  Dan sampai sekarang masih jalan di tempat, bahkan semakin kompleks. 
Sekali lagi kita melihat bahwa sesungguhnya tragedi muslim Rohingya telah menyingkap kepalsuan dan kedustaan propaganda barat. Mereka mengatakan bahwa muslim rohingya adalah kelompok yang menerima perlakuan terburuk di dunia, hanya saja mereka tidak menekan pemerintah Myanmar untuk menghentikan genosida yang dilakukannya terhadap umat islam. Karena itu wajib bagi kita untuk mengambil sikap sebagai mu’min yang benar dengan bertawakkal kepada Allah SWT. 

Akar masalah
Menurut Ust. Ismail Yusanto Jubir Hizbut Tahrir Indonesia akar masalah yang membuat teraniayanya Muslim Rohingya adalah (1) Kebencian yang luar biasa dari para biksu Budha Burma, (2) nasionalisme dan (3) ketiadaan khilafah,
Pertama, kebencian yang luar biasa para biksu terhadap Muslim di sana. Mereka memang selalu mengungkit di Indonesia dulu itu adalah mayoritas Hindu-Budha tetapi setelah masuknya dakwah Islam berubah menjadi mayoritas Muslim, para biksu ini tidak mau hal yang sama terjadi di Burma/Myanmar.
Kedua, penolakan terhadap para pengungsi Muslim Rohingya menunjukkan bagaimana nasionalisme telah membuat negara-negara itu bertindak demi kepentingan yang sempit dari negara masing-masing tanpa melihat persoalan orang lain yang lebih besar.
Ketiga, inilah cermin dari Muslim yang terpecah belah setelah tidak ada khilafah. “Harkat, martabat dan kehormatan kaum Muslim itu begitu direndahkannya, dicabik-cabik nyawanya dengan sangat mudah,” pungkasnya.(mediaumat.com, 17/5/2015)

Bersatu dalam Ukhuwah Islamiyah
“tidak beriman kalian hingga mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri"
(HR Bukhari - Muslim)
“Allah akan menolong hamba-Nya, yang selalu bersedia menolong sesama saudaranya”
(HR Muslim)
ikatan sejati dan tertinggi adalah akidah Islam yang mewajibkan persatuan umat dan kepedulian terhadap umat yang menderita dan dalam Islam juga umat Islam adalah umat yang satu, bagaikan satu tubuh, kalau satu bagian tubuh yang satu sakit maka bagian yang lain ikut menderita.Penolakan Indonesia ini juga menunjukkan meski penduduknya mayoritas Muslim tetapi pemerintahannya sekuler. “Cerminan pemerintahan sekuler, yang tidak peduli terhadap nasib umat,”
Laporan cnnindonesia.com mengabarkan (20/5/2015) Meskipun Pemerintah Indonesia melalu TNI mengupayakan agar perahu pengungsi tidak masuk ke wilayah negara ini. Namun sikap serupa tidak ditunjukkan oleh para nelayan sebuah desa kecil di Aceh. Rabu dini hari sekitar jam 01.00 ketika para nelayan mencari ikan di laut mereka menemukan exodus Rohingya dalam keadaan sangat lemah karena kehabisan makanan dan minuman sementara kapal mereka rusak. Lokasi mereka saat itu dekat ZEE sekitar tiga jam dari bibir pantai. Sesampainya di darat para nelayan kembali lagi ke kapal untuk menjemput pengungsi sisanya. Sementara warga desa tanpa pikir panjang mendirikan dapur umum untuk makan para pengungsu yang sudah tiga bulan tidak kenal lauk pauk. Tidak lama, kabar pendaratan Rohingya tersebar di berbagai desa sekitar melalui pengeras suara di meunasah atau mushola. Warga pun berdatangan membawa makanan dan pakaian.
Seorang warga Aceh Nurjanah (30thn) menceritakan kondisi mereka sembari menyendok nasi ke piring untuk makan ratusan tamunya “saya menangis melihat keadaan mereka. saking laparnya, mereka makan banyak sekali, ada yang hingga muntah. Ada juga yang tidak mau makan karena sakit. Saya sendiri belum makan dari pagi. Di rumah tidak ada yang masak. Tapi ini demi kemanusiaan”
Camat Julok, Zainudin mengatakan bahwa tindakan masyarakat Aceh ini di motivasi oleh rasa kemanusiaan dan nilai-nilai keagamaan yang kuat di tengah warga. Tidak hanya di Binjai, kecamatan lain juga turun tangan membantu.
Warga Aceh mengaku tidak peduli jika pemerintah melarang mereka menampung para pengungsi “masalah aturan pemerintah, itu urusan pemerintah. Kami hanya tahu menolong orang itu wajib. Ini wilayah serambi mekah, dimana budaya dan agamanya masih kuat. Allah yang akan membalas kami” ujar warga aceh Muhammad (42thn)
“Aceh pernah merasakan ditolong orang saat tsunami lalu. Kini giliran kami yang memberi bantuan apalagi mereka orang islam. Dalam islam binatang saja dibantu, apalagi manusia” kata nelayan Husain (48thn)
Hampir 800 pengungsi Rohingya dan Bangladesh diselamatkan nelayan Aceh dengan menarik perahu mereka ke pantai. Menurut keterangan PBB, masih ada ribuan pengungsi yang terkatung-katung di tengah laut.
Yang kita lihat hari ini adalah syu’ur islam, ukhuwah islamiyah di dalam jiwa kaum muslimin selalu ada meskipun hal tersebut dibatasi oleh ideologi busuk kapitalisme beserta turunannya khususnya nasionalisme. Disinilah Sekali lagi kebutuhan akan kesatuan umat dalam Khilafah adalah mutlak. Mau menunggu berapa kasus lagi untuk menunjukkannya?
Sejatinya kita sebagai pengemban dakwah menyadari dengan betul momentum ini, inilah saatnya menyampaikan kepada umat bahwa konsep nasionalisme jelas bertentangan dengan ukhuwah islamiyah. Dan ukhuwah islamiyah tersebut membutuhkan Khilafah islamiyah.

Ukhuwah Islamiyah dalam Khilafah
Solusi untuk musibah ini bukan hanya dengan melakukan penggalangan dana santunan untuk muslim Rohingya.  Dan bukan dengan membekali mereka makanan, pakaian dan tempat tinggal.  Dan bukan pula dengan memberi mereka kewarganegaraan atau dengan berdo’a.  Karena akar masalahnya adalah mereka tidak punya pelindung dan pemimpin yang menjaga jiwa-jiwa dan kehormatan mereka, dan menjamin pemenuhan kebutuhan dasar mereka.
Karena itu khilafah merupakan kebutuhan mendesak,  dan dunia butuh khilafah agar bisa terlepas dari keburukan kapitalisme yang rakus dan kekerasan peradaban barat yang rusak.   Lebih dari itu bahwa tegaknya khilafah adalah kewajiban terpenting yang telah Allah wajibkan kepada muslim dan muslimah.  Khilafah adalah mahkota kewajiban yang akan menjamin pelaksanaan seluruh kewajiban lainnya. Khilafah adalah sumber kemuliaan, kesatuan dan kemuliaan umat.


Sekali lagi, nasionalisme menunjukkan rendahnya pola pikir manusia, membuang jauh ikatan akidah demi garis-garis yang dibuat manusia, menghilangkan rasa kemanusiaan itu sendiri
Karena itu saya semakin yakin, kita perlu sebuah negara yang tidak memandang pada warna kulit, juga tidak pada batas-batas yang dibuat manusia, melainkan hanya batas yang dibuat oleh Allah. Negara yang manusiawi dan memanusiakan manusia, negara yang menerapkan syariat Allah. Khilafah Islam yang tak tersekat nasionalismeSelama urusan penyebab masalahnya itu tak terpecahkan, akan selalu ada pengungsi Rohingya yang terdzalimi, dan itu berarti beban kita di akhirat saat berhadapan dengan Allah Untungnya, Aceh masih peduli, semoga kepedulian ini menjadi inspirasi dan merambah pada kaum Muslim yang lainnya dibelahan bumi nusantara juga dunia (Quote Felix Siaw)